Kamis, 07 Agustus 2008
CIPTAKANLAH PERUBAHAN..
Beirut, Lebanon – Ada sebuah ungkapan lama Babilonia tentang kompromi yang berbunyi: "Jika ada kebenaran seutuhnya, tiadalah perdamaian. jika ada perdamaian, tiadalah kebenaran seutuhnya." Apa yang ingin disampaikan ungkapan bijak tersebut adalah pencarian keadilan sempurna bagi sebuah masyarakat atau tujuan mungkin secara ideologi memberikan kepuasan, tetapi tidak mungkin seiring sejalan dengan perdamaian, karena perdamaian dibangun di atas berbagai kompromi yang dilukis dengan sapuan warna abu-abu, bukan hitam atau putih.Yang membuat ungkapan bijak ini lebih rumit adalah hubungan antara kebenaran dan agama. Agama adalah kebenaran sejati, kebenaran yang datang dari Tuhan dan yang mewakili kehendak-Nya. Dalam hal ini, bagaimana mungkin, bahkan demi perdamaian, membuat sebuah kompromi antara berbagai masyarakat dengan agama yang berbeda-beda – dengan kata lain, tafsiran yang berbeda-beda tentang kehendak Tuhan?Ketika masyarakat diidentifikasikan secara eksklusif dengan atau mengidentifikasikan diri mereka berdasarkan agama, keadaan menjadi lebih ruwet dan lebih terbuka terhadap konfrontasi. Agama berbicara tentang sebagian dari perasaan dan kepekaan terdalam dari pribadi dan atau masyarakat; ia berada pada tempat terdepan dalam ingatan kolektif sejarah yang panjang, dan sering meminta kesetiaan universal, khususnya dalam agama Kristen dan Islam. Begitulah, hingga agama dilihat sebagai penyebab konflik dan sering kali, kenyataannya, menjadi penguat konflik yang berbagai penyebabnya tidak dikenali dalam jiwa agama.Para peneliti yang mempelajari peperangan, agresi, dan akar evolusi dari konflik menemukan bahwa perang adalah kebiasaan lama yang sulit dihilangkan. Mungkin bom nuklir perlu dijatuhkan lagi untuk membuat setiap orang mengerti. Sangat sedikit momen dalam sejarah peradaban yang tak menampilkan peperangan. Pada abad ke-20, diperkirakan sekitar 100 juta orang meninggal dalam berbagai perang di dunia.Para arkeolog dan antropolog telah menemukan bukti militerisme dalam 95 persen kebudayaan yang telah mereka kaji. Para pejuang sering kali merupakan anggota yang paling dihormati dari kelompok mereka. Para ahli genetika menemukan kenyataan bahwa Jenghis Khan, kaisar Mongolia abad ke-13, merupakan ayah dari begitu banyak anak sehingga 16 juta orang bisa jadi merupakan keturunannya. Arthur Koestler, pengarang "Darkness at Noon," menuliskan bahwa " di semua budaya pembunuhan yang dilakukan demi tujuan-tujuan pribadi secara statistik sangat kecil. Pembunuhan demi tujuan-tujuan umum merupakan fenomena dominan dalam sejarah manusia. Tragedi yang terjadi tidak diakibatkan oleh jumlah agresi yang berlebihan, tetapi akibat pengabdian secara berlebihan. Kesetiaan dan pengabdianlah yang membuat orang jadi fanatik, bukan spiritualitas."Berkaitan dengan Islam, ada tiga faktor utama yang membakar konflik dan menghalangi penciptaan perdamaian di dunia: kesalahan dalam penafsiran Islam oleh berbagai individu dan kelompok ekstremis; kesalahpahaman tentang Islam oleh non-Muslim, khususnya di Barat; dan salah tafsir atau penodaan Islam dalam media internasional.Tidak sulit melihat keterlibatan Islam dalam banyak konflik global dewasa ini. Ada dua penafsiran terhadap fenomena ini: umat Muslim yakin bahwa permasalahan disebabkan oleh gambaran buruk tentang Islam dalam alam kesadaran Barat, dan oleh berbagai upaya terus menerus menggoyang dunia Muslim sebagai alat untuk menjamin keamanan Israel. Di sisi lain, umat non-Muslim yakin bahwa permasalahan terletak di dalam Islam "sebagai agama yang menentang demokrasi dan liberalisme." Umat Muslim menganggap diri mereka sebagai korban dari usaha mereka mempertahankan agama mereka, sementara non-Muslim menganggap Islam itu sendirilah masalahnya. Umat Muslim mencari penyelesaian melalui cara-cara perbaikan citra Islam; non-Muslim berpendapat bahwa tidak akan ada penyelesaian kecuali dari dalam Islam, melalui suatu perubahan konsep-konsep fundamental agama tersebut.Sesungguhnya, di dalam Islam, pembunuhan atas satu orang tak berdosa dianggap sebagai sebuah kejahatan terhadap seluruh umat manusia. Hal tersebut merupakan kejahatan yang tidak dapat dibenarkan, tak peduli bagaimana caranya pelaku kejahatan tersebut mencoba memanipulasi agama untuk membenarkan tindak kejahatan mereka. Nabi Muhammad berkata: "Seorang Muslim adalah mereka yang tidak akan menyakiti orang lain (bukan hanya sesama Muslim) baik dengan tangannya atau perkataannya." Hal yang musti disadari, politik adalah hasil kerja manusia, sementara agama merupakan buah karya Tuhan, pencipta manusia. Apa yang membuat politik agama sangat berbahaya adalah keputusan-keputusannya yang dapat dianggap sebagai perwujudan kehendak Tuhan, dan menentang keputusan itu, sama saja dengan melawan kehendak Tuhan.Misalnya, agama secara tidak langsung telah mempengaruhi kebijakan Amerika di Timur Tengah sejak awal, walaupun tidak pernah sebesar sekarang, sejak Presiden George W. Bush memegang tampuk pemerintahan. Itu sebabnya perlawanan dunia Islam terhadap kebijakan itu juga berlandaskan pada agama. Kedua belah pihak sama-sama bersalah, karena sebuah kesalahan tidak dapat diperbaiki dengan kesalahan lain. Kesalahan-kesalahan tersebut tidak akan bisa menciptakan perdamaian dan jauh dari spiritualitas.Asma Asfaruddin, profesor kajian Islam pada University of Notre Dame, menulis: "Untuk mengatasi kondisi dunia yang semakin memburuk dewasa ini dan masalah yang ditengarai sebagai ekstremisme agama, kita harus mengentaskan kemiskinan global dan meningkatkan martabat manusia biasa sebagai prioritas utama." Kita juga harus memasukkan nilai-nilai moral dan etika dalam masyarakat dan diplomasi internasional, menuntut pertanggungjawaban para pemimpin kita atas nilai-nilai tersebut. Ini akan menjadi cara terbaik dalam meruntuhkan platform para ekstremis yang memetik keuntungan dari kesengsaraan kaum miskin dan tak berdaya. Di atas landasan bersama seperti itulah, yang dibangun berdasarkan prinsip-prinsip etika universal, beragam kelompok manusia dapat bersatu.Konflik militer tidak diawali oleh satu pihak dengan menembakkan senjata ke pihak lain. Perang berawal dalam pikiran dan dalam pikiran pula kita dapat membuat perdamaian. Karena itu pembangunan perdamaian bukan hanya soal gencatan senjata atau bahkan pernyataan-pernyataan politik. Ia adalah sebuah budaya, pendidikan, dan sebentuk spiritualitas yang berasal dari pikiran-pikiran mereka yang mempercayainya. Kehancuran tidak akan menghasilkan kehidupan, ia juga tidak mewakili kemenangan. Keyakinan bahwa menghancurkan mereka "yang tidak beriman" merupakan tugas suci yang dapat membebaskan kekuatan kemerdekaan dan demokrasi merupakan sebuah khayalan. Dan kemenangan khayali merupakan kekalahan yang terburuk.###* Mohammad Sammak adalah sekretaris jenderal Christian-Muslim Committee for Dialogue dan Executive Committee of the Christian-Muslim Arab Group.* *Artikel ini disebarluaskan oleh Common Ground News Service (CGNews) dan dapat dibaca di www.commongroundnews.orgSumber: Daily Star, 20 Desember 2006, www.dailystar.com.lbTelah memperoleh izin hak cipta.
SEPULUH (10) KEPRIBADIAN ORANG SUKSES
“The best way to predict the future is to create it.” – Alan Kay
Suatu kesuksesan memiliki banyak definisi dan variasi tolok ukur. Beberapa dari kita meyakini, bahwa kesuksesan berarti mencapai posisi tertinggi di kantor, variasi lainnya bermakna memiliki kecukupan finansial tertentu. Ada sebagian lagi mewujudkan kesuksesan sebagai sebuah predikat penghargaan dari kolega dan khalayak atas prestasinya. Dari bermacam definisi dan tolok ukur itu, satu hal yang dapat disimpulkan bahwa kesuksesan merupakan pencapaian impian melalui sebuah proses terstruktur dan terencana. Contohnya, si A mendefinisikan sukses jika dia mampu mencapai manajer pemasaran di tempat kerjanya. Usaha untuk “memuluskan” kesuksesan tersebut, A memutuskan untuk belajar kembali di institusi pendidikan S2 dan mengikuti beberapa seminar pemasaran. Tentu saja, banyak hal yang perlu dipersiapkan, baik itu material dan sikap pribadinya. Bentuk material berupa dana dan waktu merupakan hal yang pasti harus dipersiapkan, lalu perlu juga ditunjang dengan sikap pribadi dalam menyikapi proses pencapaian kesuksesan itu sendiri.
Merujuk kepada Jennie S. Bev yaitu seorang konsultan, entrepreneur, penulis dan edukator bertempat tinggal di San Francisco Bay Area dan merupakan seorang Indonesia yang “sukses” berkompetisi pada iklim “ketat” Amerika. Beliau mengedepankan 10 unsur kepribadian seorang sukses (baik dari segi keuangan dan prestasi) yang berdasarkan pada komunikasi dan pergaulannya dengan para billionaire dan beberapa pengusaha sukses. Sepuluh sikap itu adalah sebagai berikut:
Satu, keberanian untuk berinisiatif. Kekuatan yang sebenarnya tidak lagi menjadi rahasia atas kesuksesan orang-orang terknenal yaitu mereka selalu punya ide-ide cemerlang! Seorang Donald Trump yang “mendunia” karena superioritasnya di bidang Real Estate awalnya berproses dari status bangkrut dan akhirnya berpredikat Raja Real Estate, adalah contoh dari seorang yang jenius dan berani berinisiatif. Kita tentu mengenal serial TV The Apprentice, kontes Miss Universe, Online University bernama TrumpUniversity.com, bahkan di negara asalnya boneka Donald adalah sebuah icon dan produk laris selain buku-buku bestseller-nya. Dan inisiatif adalah kekayaan semua orang, tinggal orang itu mau atau tidak untuk berinisiatif mengemukakan ide-idenya.
Dua, tepat waktu. Sebuah hal yang pasti untuk semua orang di dunia ini tanpa terkecuali adalah bahwa kita memiliki jumlah waktu yang sama yaitu 24 jam sehari. Seorang yang menepati janji dan tepat waktu menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang memiliki kemampuan mengatur/manage sesuatu yang paling terbatas tersebut. Kemampuan untuk hadir sesuai janji adalah kunci dari semua keberhasilan, terutama keberhasilan berbisnis dan berinteraksi. Memberikan perhatian lebih terhadap waktu merupakan pencerminan dari respek terhadap diri sendiri dan kolega dan mitra kita.
Tiga, senang melayani dan memberi. Sebuah rumus sukses dari banyak orang sukses adalah mampu memimpin, namun sebuah additional attribute dari sikap kepemimpinan adalah kebiasaan melayani dan memberi. The more you give to others, the more respect you get in return. Dan, keikhlasan adalah kunci untuk sifat ini. Kebaikan lain akan terus mengalir tanpa henti saat kita mampu memberi dan melayani dengan ikhlas. Ini mungkin bisa dibilang sebagai bonus saja! Tetapi, setidaknnya dengan memberi dan melayani berarti menunjukkan kepada teman, kolega serta rekan kita betapa suksesnya diri kita sehingga membuat orang lebih yakin bermitra dan bergaul dengan diri kita.
Empat, membuka diri terlebih dahulu. Barangkali kita pernah bertemu orang yang selalu mau tahu tentang hal pribadi orang lain namun dia terus menutup diri agar jati dirinya tidak terbuka. Mereka biasanya hidup dalam ketakutan dan kecurigaan, dan selalu berprasangka buruk kepada siapa saja yang dijumpainya. Sikap ini adalah unsur yang tidak dimiliki banyak orang sukses. Rasa percaya dan kebesaran hati untuk membuka diri terhadap lawan bicara merupakan cermin bahwa kita nyaman dengan diri sendiri, lantas tidak ada yang perlu ditutupi, itulah yang dicari oleh para partner sejati dan sebagian besar dari kita akan setuju bahwa tidak banyak orang yang mau bekerja sama dengan orang yang misterius, betul kan?
Lima, senang bekerja sama dan membina hubungan baik. Kemampuan bekerja sama dalam tim adalah salah satu kunci keberhasilan utama. Kembali kita mengambil contoh Donald Trump. Dalam serial TV The Apprentice, Trump memiliki tim yang loyal dan menjadi perpanjangan tangan dirinya dalam menemukan para calon “orang kepercayaan” yang baru. Pada akhirnya, Trump akan memiliki sebuah tim yang sangat loyal dan bervisi sama dengan menciptakan jaringan kerja yang baik, sehingga jalan menuju sukses itu semakin terbuka lebar.
Enam, senang mempelajari hal-hal baru. Ciputra dan Aburizal Bakrie adalah seorang yang bisa dikatakan sebagai orang sukses dalam bidangnya yaitu commerce. Tapi saat mereka mendirikan universitas, apakah mereka beralih sebagai seorang pendidik? Atau mereka sendiri sebenarnya adalah profesor? Jelas tidak, mereka tetap seorang entrepreneur, namun dengan kegemarannya mencari hal-hal baru serta langsung menerapkannya, maka dunia bisnis semakin terbuka luas baginya. Dunia bisnis ibarat sebagai tempat bermain yang laus dan tidak terbatas. Jadi senang belajar dan mencari hal baru adalah sebuah sikap kesuksesan.
Tujuh, jarang mengeluh, profesionalisme adalah yang paling utama. Lance Armstrong pernah berkata, “There are two kinds of days: good days and great days.” Hanya ada dua macam hari: hari yang baik dan hari yang sangat baik. Adalah baik jika kita tidak pernah mengeluh, walaupun suatu hari mungkin kita akan jatuh dan gagal. Mengapa? Karena setiap kali gagal, itu adalah kesempatan bagi diri kita untuk belajar mengatasi kegagalan itu sendiri sehingga tidak terulang lagi di kemudian hari. Hari di mana kita gagal tetap sebagai a good day (hari yang baik).
Delapan, berani menanggung resiko. Jelas, tanpa ini tidak ada kesempatan sama sekali untuk menuju sukses. Sebenarnya setiap hari kita menanggung resiko, walaupun tidak disadari penuh. Resiko hanyalah akan berakibat dua macam: be a good or a great day. Jadi, jadi tidak perlu dikhawatirkan lagi bukan? Kegagalan pun hanyalah kesempatan belajar untuk tidak mengulangi hal yang sama di kemudian hari dan tentunya ambang kepada kesuksesan akan lebih dekat.
Sembilan, tidak menunjukkan kekhawatiran (berpikir positif setiap saat). Berpikir positif adalah environment atau default state di mana keseluruhan eksistensi kita berada. Jika kita gunakan pikiran negatif sebagai default state, maka semua perbuatan kita akan berdasarkan ini (kekhawatiran atau cemas). Dengan pikiran positif, maka perbuatan kita akan didasarkan oleh getaran positif, sehingga hal positif akan semakin besar kemungkinannya. Semakin positif kita menyikapi hambatan, semakin besar kesempatan kita menemukan penyelesaian atas hambatan tersebut.
Sepuluh, “comfortable in their own skin” Menutup-nutupi sesuatu maupun supaya tampak “lebih” dari lawan bicaranya. Pernah bertemu dengan orang sukses yang rendah diri alias tidak nyaman dengan diri mereka sendiri? Tidak ada tentunya. Kenyamanan menjadi diri sendiri tidak perlu ditutup-tutupi supaya lawan bicara tidak tersinggung karena setiap orang mempunyai tempat tersendiri di dunia yang tidak bisa digantikan oleh orang lain. Saya adalah saya, mereka adalah mereka. Dengan menjadi diri saya sendiri, saya tidak akan mengusik keberadaan mereka. Jika mereka merasa tidak nyaman, itu bukan karena kepribadian saya, namun karena mindset yang berbeda dan kekurangmampuan mereka dalam mencapai kenyamanan dengan diri sendiri. Sikap dasar orang sukses tersebut di atas barangkali dapat menjadi cerminan dan memuluskan langkah kita untuk mencapai kesuksesan yang kita impikan, tinggal kita yang memutuskan. Siap untuk sukses? Sampai bertemu lagi di puncak gunung kesuksesan!
Suatu kesuksesan memiliki banyak definisi dan variasi tolok ukur. Beberapa dari kita meyakini, bahwa kesuksesan berarti mencapai posisi tertinggi di kantor, variasi lainnya bermakna memiliki kecukupan finansial tertentu. Ada sebagian lagi mewujudkan kesuksesan sebagai sebuah predikat penghargaan dari kolega dan khalayak atas prestasinya. Dari bermacam definisi dan tolok ukur itu, satu hal yang dapat disimpulkan bahwa kesuksesan merupakan pencapaian impian melalui sebuah proses terstruktur dan terencana. Contohnya, si A mendefinisikan sukses jika dia mampu mencapai manajer pemasaran di tempat kerjanya. Usaha untuk “memuluskan” kesuksesan tersebut, A memutuskan untuk belajar kembali di institusi pendidikan S2 dan mengikuti beberapa seminar pemasaran. Tentu saja, banyak hal yang perlu dipersiapkan, baik itu material dan sikap pribadinya. Bentuk material berupa dana dan waktu merupakan hal yang pasti harus dipersiapkan, lalu perlu juga ditunjang dengan sikap pribadi dalam menyikapi proses pencapaian kesuksesan itu sendiri.
Merujuk kepada Jennie S. Bev yaitu seorang konsultan, entrepreneur, penulis dan edukator bertempat tinggal di San Francisco Bay Area dan merupakan seorang Indonesia yang “sukses” berkompetisi pada iklim “ketat” Amerika. Beliau mengedepankan 10 unsur kepribadian seorang sukses (baik dari segi keuangan dan prestasi) yang berdasarkan pada komunikasi dan pergaulannya dengan para billionaire dan beberapa pengusaha sukses. Sepuluh sikap itu adalah sebagai berikut:
Satu, keberanian untuk berinisiatif. Kekuatan yang sebenarnya tidak lagi menjadi rahasia atas kesuksesan orang-orang terknenal yaitu mereka selalu punya ide-ide cemerlang! Seorang Donald Trump yang “mendunia” karena superioritasnya di bidang Real Estate awalnya berproses dari status bangkrut dan akhirnya berpredikat Raja Real Estate, adalah contoh dari seorang yang jenius dan berani berinisiatif. Kita tentu mengenal serial TV The Apprentice, kontes Miss Universe, Online University bernama TrumpUniversity.com, bahkan di negara asalnya boneka Donald adalah sebuah icon dan produk laris selain buku-buku bestseller-nya. Dan inisiatif adalah kekayaan semua orang, tinggal orang itu mau atau tidak untuk berinisiatif mengemukakan ide-idenya.
Dua, tepat waktu. Sebuah hal yang pasti untuk semua orang di dunia ini tanpa terkecuali adalah bahwa kita memiliki jumlah waktu yang sama yaitu 24 jam sehari. Seorang yang menepati janji dan tepat waktu menunjukkan bahwa dia adalah seorang yang memiliki kemampuan mengatur/manage sesuatu yang paling terbatas tersebut. Kemampuan untuk hadir sesuai janji adalah kunci dari semua keberhasilan, terutama keberhasilan berbisnis dan berinteraksi. Memberikan perhatian lebih terhadap waktu merupakan pencerminan dari respek terhadap diri sendiri dan kolega dan mitra kita.
Tiga, senang melayani dan memberi. Sebuah rumus sukses dari banyak orang sukses adalah mampu memimpin, namun sebuah additional attribute dari sikap kepemimpinan adalah kebiasaan melayani dan memberi. The more you give to others, the more respect you get in return. Dan, keikhlasan adalah kunci untuk sifat ini. Kebaikan lain akan terus mengalir tanpa henti saat kita mampu memberi dan melayani dengan ikhlas. Ini mungkin bisa dibilang sebagai bonus saja! Tetapi, setidaknnya dengan memberi dan melayani berarti menunjukkan kepada teman, kolega serta rekan kita betapa suksesnya diri kita sehingga membuat orang lebih yakin bermitra dan bergaul dengan diri kita.
Empat, membuka diri terlebih dahulu. Barangkali kita pernah bertemu orang yang selalu mau tahu tentang hal pribadi orang lain namun dia terus menutup diri agar jati dirinya tidak terbuka. Mereka biasanya hidup dalam ketakutan dan kecurigaan, dan selalu berprasangka buruk kepada siapa saja yang dijumpainya. Sikap ini adalah unsur yang tidak dimiliki banyak orang sukses. Rasa percaya dan kebesaran hati untuk membuka diri terhadap lawan bicara merupakan cermin bahwa kita nyaman dengan diri sendiri, lantas tidak ada yang perlu ditutupi, itulah yang dicari oleh para partner sejati dan sebagian besar dari kita akan setuju bahwa tidak banyak orang yang mau bekerja sama dengan orang yang misterius, betul kan?
Lima, senang bekerja sama dan membina hubungan baik. Kemampuan bekerja sama dalam tim adalah salah satu kunci keberhasilan utama. Kembali kita mengambil contoh Donald Trump. Dalam serial TV The Apprentice, Trump memiliki tim yang loyal dan menjadi perpanjangan tangan dirinya dalam menemukan para calon “orang kepercayaan” yang baru. Pada akhirnya, Trump akan memiliki sebuah tim yang sangat loyal dan bervisi sama dengan menciptakan jaringan kerja yang baik, sehingga jalan menuju sukses itu semakin terbuka lebar.
Enam, senang mempelajari hal-hal baru. Ciputra dan Aburizal Bakrie adalah seorang yang bisa dikatakan sebagai orang sukses dalam bidangnya yaitu commerce. Tapi saat mereka mendirikan universitas, apakah mereka beralih sebagai seorang pendidik? Atau mereka sendiri sebenarnya adalah profesor? Jelas tidak, mereka tetap seorang entrepreneur, namun dengan kegemarannya mencari hal-hal baru serta langsung menerapkannya, maka dunia bisnis semakin terbuka luas baginya. Dunia bisnis ibarat sebagai tempat bermain yang laus dan tidak terbatas. Jadi senang belajar dan mencari hal baru adalah sebuah sikap kesuksesan.
Tujuh, jarang mengeluh, profesionalisme adalah yang paling utama. Lance Armstrong pernah berkata, “There are two kinds of days: good days and great days.” Hanya ada dua macam hari: hari yang baik dan hari yang sangat baik. Adalah baik jika kita tidak pernah mengeluh, walaupun suatu hari mungkin kita akan jatuh dan gagal. Mengapa? Karena setiap kali gagal, itu adalah kesempatan bagi diri kita untuk belajar mengatasi kegagalan itu sendiri sehingga tidak terulang lagi di kemudian hari. Hari di mana kita gagal tetap sebagai a good day (hari yang baik).
Delapan, berani menanggung resiko. Jelas, tanpa ini tidak ada kesempatan sama sekali untuk menuju sukses. Sebenarnya setiap hari kita menanggung resiko, walaupun tidak disadari penuh. Resiko hanyalah akan berakibat dua macam: be a good or a great day. Jadi, jadi tidak perlu dikhawatirkan lagi bukan? Kegagalan pun hanyalah kesempatan belajar untuk tidak mengulangi hal yang sama di kemudian hari dan tentunya ambang kepada kesuksesan akan lebih dekat.
Sembilan, tidak menunjukkan kekhawatiran (berpikir positif setiap saat). Berpikir positif adalah environment atau default state di mana keseluruhan eksistensi kita berada. Jika kita gunakan pikiran negatif sebagai default state, maka semua perbuatan kita akan berdasarkan ini (kekhawatiran atau cemas). Dengan pikiran positif, maka perbuatan kita akan didasarkan oleh getaran positif, sehingga hal positif akan semakin besar kemungkinannya. Semakin positif kita menyikapi hambatan, semakin besar kesempatan kita menemukan penyelesaian atas hambatan tersebut.
Sepuluh, “comfortable in their own skin” Menutup-nutupi sesuatu maupun supaya tampak “lebih” dari lawan bicaranya. Pernah bertemu dengan orang sukses yang rendah diri alias tidak nyaman dengan diri mereka sendiri? Tidak ada tentunya. Kenyamanan menjadi diri sendiri tidak perlu ditutup-tutupi supaya lawan bicara tidak tersinggung karena setiap orang mempunyai tempat tersendiri di dunia yang tidak bisa digantikan oleh orang lain. Saya adalah saya, mereka adalah mereka. Dengan menjadi diri saya sendiri, saya tidak akan mengusik keberadaan mereka. Jika mereka merasa tidak nyaman, itu bukan karena kepribadian saya, namun karena mindset yang berbeda dan kekurangmampuan mereka dalam mencapai kenyamanan dengan diri sendiri. Sikap dasar orang sukses tersebut di atas barangkali dapat menjadi cerminan dan memuluskan langkah kita untuk mencapai kesuksesan yang kita impikan, tinggal kita yang memutuskan. Siap untuk sukses? Sampai bertemu lagi di puncak gunung kesuksesan!
Langganan:
Postingan (Atom)